Di antara semua dokumen pendaftaran, personal statement atau motivation letter sering menjadi yang paling menakutkan. Bukan karena teknisnya sulit, tetapi karena harus menulis tentang diri sendiri secara jujur, meyakinkan, dan tetap relevan secara akademik. Banyak mahasiswa merasa bingung harus mulai dari mana, apa yang perlu diceritakan, dan sejauh mana harus “menjual diri”.
Padahal, personal statement bukan soal membuat cerita yang dramatis, melainkan soal menjelaskan perjalanan hidup dan tujuan secara masuk akal. Universitas ingin tahu siapa kamu, apa yang mendorongmu memilih jurusan tersebut, dan apa yang ingin kamu capai setelah lulus. Mereka tidak mencari kandidat sempurna, tetapi kandidat yang sadar akan arah hidupnya.
Secara umum, personal statement yang baik biasanya memiliki alur yang sederhana namun jelas. Dimulai dari latar belakang singkat, lalu pengalaman yang membentuk minat akademik, kemudian alasan memilih jurusan dan universitas, dan diakhiri dengan rencana masa depan. Struktur ini tidak kaku, tetapi membantu tulisan tetap fokus dan tidak melebar ke mana-mana.
Kesalahan paling umum adalah menulis terlalu umum. Banyak essay terdengar seperti ini: ingin menimba ilmu, ingin membanggakan orang tua, ingin berkontribusi untuk bangsa. Kalimat-kalimat tersebut tidak salah, tetapi terlalu generik dan bisa ditulis oleh siapa saja. Yang membedakan personal statement yang kuat adalah detail personal, pengalaman nyata, dan refleksi yang jujur.
Contohnya, daripada menulis “saya tertarik pada teknologi sejak kecil”, akan jauh lebih kuat jika kamu menceritakan satu pengalaman konkret, misalnya proyek kecil yang pernah kamu kerjakan, masalah yang pernah kamu hadapi, atau momen tertentu yang membuatmu sadar ingin mendalami bidang tersebut. Cerita kecil seperti ini justru membuat tulisan terasa hidup dan tidak dibuat-buat.
Dalam praktiknya, personal statement juga sebaiknya tidak terlalu panjang. Rata-rata universitas meminta 500 sampai 1000 kata. Tantangannya bukan menulis banyak, tetapi menulis ringkas tanpa kehilangan makna. Setiap paragraf seharusnya punya tujuan, bukan sekadar mengisi ruang.
Beberapa elemen penting yang hampir selalu dicari oleh reviewer antara lain:
-
Alasan akademik yang jelas, bukan sekadar minat
-
Keterkaitan pengalaman dengan jurusan
-
Kemampuan refleksi, bukan hanya cerita
-
Tujuan setelah lulus yang realistis
Banyak mahasiswa gagal karena terlalu fokus pada masa lalu, tetapi lupa menjelaskan masa depan. Padahal, universitas ingin tahu dampak jangka panjang dari menerima kamu sebagai mahasiswa.
Hal lain yang sering diabaikan adalah proses revisi. Personal statement yang bagus hampir tidak pernah jadi dalam sekali tulis. Biasanya perlu beberapa kali revisi, jeda waktu, dan idealnya dibaca oleh orang lain untuk mendapat sudut pandang berbeda. Tulisan yang terasa “oke” bagi penulis belum tentu jelas bagi pembaca.
Pada akhirnya, personal statement bukan tentang menjadi orang lain, tetapi tentang menjadi versi paling jujur dari diri sendiri. Tidak perlu mengada-ada prestasi besar, tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Yang paling penting adalah menunjukkan bahwa kamu memahami pilihanmu dan siap bertanggung jawab atasnya.
Bagi banyak mahasiswa, motivation letter adalah pintu pertama menuju dunia akademik internasional. Kalau pintu ini bisa kamu buka dengan cerita yang kuat dan jujur, peluang di tahap berikutnya akan terasa jauh lebih besar.



